Rumaisa

Oleh: Faizunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.

Kemarahan ada di mana-mana. Banyak orang menggendong sifat temperamental ini ke mana-mana. Hasilnya bisa ditebak, emosi meledak kapan saja. Hal sepele pun bisa jadi malapetaka. Sedikit–sedikit marah. Dikit-dikit berkelahi. Saking liarnya, mereka disemati gelar supen alias sumbu pendek. Cepat marah dan emosi meledak, bahkan saat sesuatunya belum lagi jelas. Penyesalan pada ujungnya.

Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita tentang seseorang yang berkarakter supen ini. Dia heran setengah mati, ketika berjumpa kembali dengan kawan lamanya tersebut dengan perkembangan luar biasa. Ia jauh dari kesan emosional. Cool banget, meminjam istilah anak sekarang. Suaranya perlahan, tenang, tertata, dengan aura kesabaran luar biasa dalam. Nah, teman – temannya pun banyak yang penasaran. Pengin tahu kenapa bisa berubah total seperti itu. 180 derajat. Apa sebabnya? Inilah kisahnya.

Usai kuliah kawan teman tersebut jatuh cinta pada seorang gadis Jawa dari keluarga terpandang. Sistem pendidikan di keluarga istrinya ini keras bukan kepalang, sehingga si gadis Jawa itu halus dan sabar luar biasa. Kawan teman itu menganggap gadis Jawa ini serba lelet. Namun entah kenapa, Tuhan punya rencana sendiri. Mereka akhirnya menikah juga, ketika keduanya kuliah pasca sarjana. Supen vs lelet.

Selama 10 tahun lebih menikah, mereka terombang-ambing prahara. Maklum, kawan teman itu ketika kuliah terkenal sebagai playboy, selain supen. Namun, bahtera perkawinan itu selamat hingga kini. Si kawan teman tersebut bercerita, ketika pertama kali istrinya tahu ia berselingkuh, sang istri memperlihatkan lebih banyak cinta dan damai. Tidak marah. Tidak kontraproduktif. Mulanya ia senang-senang saja, menikmati hal ini. Dan menganggap istrinya bodoh dan lemah. Mudah ditipu dan dikibuli. Tetapi, lama-lama ia malu sendiri. Disakiti, tetapi malah semakin cinta. Diprovokasi malah berdamai. Sering ditinggal malah tambah sabar menanti. Akhirnya ia sadar, yang sesungguhnya bodoh dan lemah adalah dirinya sendiri. Akhirnya kawan teman tersebut berubah. Ia taubat. Kini, ia dikenal sebagai orang yang sabar, santun juga arif dan bijaksana.

Kelembutan laksana air. Disertai kesabaran dan ditopang niat yang benar, manajemen kelembutan bisa mengubah perilaku. Persis ajaran klasik Cina dari I-Ching. Dalam buku I-Ching, termuat sebuah prosa tentang air dan kekuatan mengalirnya. Intinya, bila alirannya tertahan, air akan berhenti sejenak. Buat apa? Berkoordinasi, menghimpun kekuatan dengan menambah volumenya. Terus dan terus, sampai akhirnya meluber melewati rintangan. Dan mengalir lagi mengikuti irama kehidupan ini.

فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran:159)

Manajemen kelembutan memang unik. Manajemen kelembutan bukan berarti menjadi plin-plan dan tidak tegas. Lihatlah Mahatma Gandhi dengan ahimsanya, yaitu cinta dan damai. Gandhi percaya, ahimsa dapat merangkul siapa saja, kekuatannya dahsyat tanpa batas. Kita mungkin sukar percaya bahwa sesuatu yang lemah dan lentur mampu mengalahkan yang keras. Sebab, sejak kecil secara fisik kita diajari: hanya benda keras seperti palu dan martil yang bisa memecahkan batu dan tembok. Kekuatan ahimsa secara filosofis adalah pada pandangan bahwa tak semua musuh harus ditumpas. Ahimsa menawarkan alternatif, daripada menghancurkan musuh, lebih baik merangkulnya dengan cinta dan damai.

Di dalam hadits Bukhary diceritakan bahwa pada masa Rasulullah ﷺ, ada seorang istri sholihah yang memiliki anak kecil yang sakit. Ia bernama Rumaisa. Ada juga yang menyebutnya Rumaisha, dengan julukan Ummu Sulaim. Kisah bebasnya kurang lebih seperti ini. Ketika suaminya bekerja keluar rumah, anaknya itu wafat. Istri itu duduk dan menangisi kepergian anaknya itu. Tiba-tiba ia berhenti menangis dan sadar bahwa sebentar lagi suaminya pulang ke rumah. Ia bergumam, jika saya menangis terus di samping jenazah anakku ini, kehidupan tidak akan dikembalikan kepadanya dan akan melukai perasaan suamiku. Padahal ia pulang dalam keadaan lelah. Ia cepat-cepat meletakkan anaknya yang wafat itu pada suatu tempat.

Datanglah suaminya itu dari tempat kerjanya. Sang istri pun menyambutnya dengan senyum dan penuh kasih sayang. Ia sediakan makanan kesukaannya dan membasuh kaki suaminya itu. ”Mana anak kita yang sakit?” tanya suami. Istrinya menjawab, “Alhamdulillah tenang, ia sudah lebih baik.” Sang istri mengajak suaminya untuk tidur hingga terbangun menjelang waktu subuh. Sang suami bangun, mandi, dan shalat sunah. Saat suami akan berangkat ke mesjid untuk shalat shubuh berjamaah, istrinya berkata dengan tenang, “Suamiku aku ingin menyampaikan sesuatu padamu”.

“Silahkan,” kata suaminya. Sang istri pun berkata, “Jika ada yang menitipkan amanat kepada kita, lalu pada saatnya diambil dari kita, bagaimana pendapatmu jika amanat itu kita tahan dan kita tidak mau memberikan kepadanya?”

“Itu perbuatan paling buruk dan bisa disebut khianat dalam beramal. Itu merupakan perbuatan yang sangat tercela. Kita wajib mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya bila diminta,” jawab suaminya.

“Sudah tiga tahun, Allah menitipkan amanat kepada kita. Hari kemarin, dengan kehendak-Nya, Allah mengambil amanat itu dari kita. Anak kita sekarang wafat. Ia ada di kamar sebelah. Sekarang berangkatlah engkau dan lakukanlah shalat,” timpal sang Istri.

Suami itu pun marah, karena sikap istrinya. Kenapa baru mengabarkan kematian setalah melalui kegembiraan itu semua. Namun ia pun sadar, lalu melihat anaknya dan kemudian pergi ke masjid untuk shalat berjamaah di masjid Nabi. Seusai suami itu mengkabarkan kematian anaknya. Nabi Muhammad ﷺ langsung mendekatinya seraya berkata, “Diberkatilah malam kamu yang tadi itu. Malam ketika suami istri bersabar dalam menghadapi musibah.” Selengkapnya kisah itu sebagai berikut.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau ﷺ lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.” Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi ﷺ dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi ﷺ. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi ﷺ lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi ﷺ mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ

Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah ﷺ dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau ﷺ. Rasulullah ﷺ pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim).

Dirangkum jadi satu, kesabaran laksana air. Ia adalah sumber kehidupan. Demikian juga dengan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang dishiasi dengan kesabaran kecuali akan indah dan barokah pada akhirnya. Selain berhasil membawa perubahan, kesabaran berbalas tanpa batas. Hanya Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang akan dipenuhi ganjaran mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar:10)

Dari Abu Said al-Khudri r.a., Rasulullah ﷺ bersabda;

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

“Barangsiapa berusaha sabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidak ada sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang lebih luas daripada kesabaran.” (HR Bukhari)

Semoga kita semua, menemukan Rumaisa-Rumaisa kecil di gubuk kita yang mungil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.