Pengajian PC LDII Kuala Pembuang Tekankan Bahaya Kesombongan dan Godaan Dunia Maya

KUALA PEMBUANG, 30 Oktober 2025 —
Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kuala Pembuang menggelar pengajian rutin di Masjid Sabilillah, Kuala Pembuang. Kegiatan ini diikuti jamaah dari wilayah Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Kelurahan Kuala Pembuang Satu dan Kuala Pembuang Dua, serta dilaksanakan secara hybrid dengan menghubungkan beberapa titik daring di Kabupaten Seruyan dan Kotawaringin Timur.

Pengajian di PC LDII Kuala Pembuang berperan sebagai studio online, sementara studio utama berada di Sampit, Ketapang, yang menjadi pusat penyiaran utama kegiatan. Melalui sistem hybrid ini, jamaah dari berbagai daerah dapat mengikuti kajian secara serentak dan interaktif, baik secara langsung maupun daring.

Pengajian yang dimulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB tersebut membahas materi Al-Qur’an Surat Al-Baqarah serta hadits bertema budi pekerti (adab) yang menekankan larangan bersikap sombong, bahkan sekecil semut hitam. Materi hadits disampaikan oleh Ustaz Harianto, muballigh asal Ketapang, Sampit. Ia menegaskan bahwa kesombongan sekecil apa pun dapat menghalangi seseorang untuk masuk surga.

“Manusia tidak boleh sombong meskipun hanya seberat semut hitam, karena kesombongan dapat menutup pintu surga bagi pelakunya,” ujar Ustaz Harianto dalam penyampaiannya.

Acara yang dilaksanakan secara hybrid ini bertujuan meningkatkan pengetahuan agama, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pengajian diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan kekompakan antarsesama jamaah.

Pengajian ditutup dengan tausiyah oleh H. Eko Cahyono, selaku Dewan Penasehat DPD LDII Kabupaten Kotawaringin Timur. Dalam pesannya, ia mengingatkan pentingnya membentengi diri dari berbagai bentuk godaan, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

“Godaan saat ini tidak hanya datang secara langsung, tetapi juga melalui gawai dan internet. Oleh karena itu, mari kita jaga diri dengan memperbaiki ibadah, terutama sholat lima waktu,” tutur H. Eko Cahyono.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama, meninggalkan pesan kuat bagi jamaah untuk memperbaiki sikap, menambah keimanan, serta memperkuat benteng diri di tengah tantangan zaman modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *